NEWSIN, SUMBA BARAT – Dua warga tewas dalam tragedi penembakan oleh aparat di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Selasa, 15 September 2026. Peristiwa itu kemudian memicu kerusuhan di sekitar Polres Sumba Barat.
Kedua korban dilaporkan adalah Jowo Tana, 39 tahun, dan Marselinus B. Pagegi, 20 tahun. Keduanya tewas ditembak aparat pada hari yang sama, masing-masing pagi dan malam hari. Jowo merupakan warga Sumba Barat, sedang Marselinus adalah warga Sumba Tengah.
Dalam pernyataan tertulisnya, Kepala Bidang Humas Polda NTT, Henry Novika Chandra, menjelaskan bahwa Jowo Tana tewas dalam upaya penangkapan terkait kasus pencurian ternak.

Henry menyebut penangkapan itu merupakan bagian proses panjang penelusuran kasus pencurian ternak yang, diakuinya, kerap disertai kekerasan sejak 2022.
Menurut Henry, penangkapan yang dipimpin Kepala Unit Buser Polres Sumba Barat itu mula-mula berhasil meringkus dua tersangka berinisial ASBL dan KY sekitar pukul 02.00 Wita.
Tersangka ketiga adalah berinisial YKM ditangkap empat jam kemudian.
Polisi kemudian mendatangi rumah Jowo Tana di Kampung Wai Makapal, Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli, sekitar pukul 09.40 Wita.

Menurut Henry, penembakan terjadi setelah Jowo disebut memberikan “respons negatif” dengan mengayunkan parang ke arah polisi.
“Petugas sempat melepaskan tiga kali tembakan peringatan ke udara, namun diabaikan oleh J.T. yang berupaya melarikan diri,” kata Henry.
Di tengah situasi itu, polisi kemudian melepaskan tembakan yang diarahkan ke kaki korban. Namun, tembakan tersebut meleset dan mengenai bahu kanan karena korban terjatuh.
Jowo Tana selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Kristen Lende Moripa pada pukul 10.00 Wita. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia meninggal pada pukul 10.20 Wita.
Korban Kedua
Usai kejadian, keluarga mendatangi Polres Sumba Barat sambil membawa jenazah Jowo. Mereka meminta pertanggungjawaban atas kematian korban.
Situasi berubah jelang malam hari ketika dialog tidak menemukan jalan keluar, seperti ditulis Floresia.
Dalam sebuah video beredar, tampak istri dan kerabat korban berdiri di sekeliling jenazah di depan pintu Polres sambil menangis dan menyampaikan protes. Sejumlah anggota TNI juga terlihat mengawal mereka.
“Kita minta tolong Kapolres Sumba Barat punya pertanggungjawaban di depan, supaya masyarakat yang lain dengar,” kata salah seorang anggota keluarga.
“Harus ada keputusan sekarang, ini sudah melayang orang punya nyawa,” kata kerabat lainnya.
Setelah beberapa saat, Kapolres Sumba Barat AKBP Yohanis Nisa Pewali keluar menemui massa.
Yohanis tampak berusaha menenangkan istri dan kerabat korban, tetapi protes dan teriakan mereka terus berlanjut.
“Jangan bawa pulang [jenazah] ke rumah. Ini rumah tempat mengadu masyarakat memang. Biar Prabowo juga telepon di sana, tidak bisa,” ujar mereka.
Situasi kemudian semakin mencekam ketika massa berusaha membawa jenazah Jowo Tana masuk ke ruang tunggu Polres.
Ketika jenazah berhasil dibawa masuk dan massa terus berusaha membuka pintu kaca ruangan sambil mengangkat parang, polisi dari dalam ruangan melepaskan tembakan satu per satu.
Polisi kemudian kembali melepaskan tembakan sambil mengejar warga yang berlarian di halaman dan hendak keluar dari gerbang Polres.
Saat itulah Marselinus, warga Kampung Galukawu, Desa Maradeta, Kecamatan Umbu Ratunggay Tengah, Sumba Tengah, diduga terkena peluru dan tewas.
Keterangan aparat
Polisi menyebut pengamanan terhadap massa dilakukan tanpa menggunakan peluru tajam.
Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026), seperti dilansir Herald id, mengatakan personel menggunakan perlengkapan pengendalian massa saat menghadapi penyerangan. Gas air mata dan peluru karet digunakan untuk menghalau massa dalam pengamanan tersebut.
“Polda NTT dan Polres Sumba Barat yang lakukan pengamanan mako tadi malam tegas dengan tidak ada peluru tajam. Jadi pengamanan digunakan sesuai SOP menghalau massa,” kata Henry.
Pemeriksaan terhadap jenazah dilakukan guna mengetahui kondisi medis korban sebelum dipastikan penyebab kematian. Laporan sementara pemeriksaan menyebut adanya henti pernapasan pada paru.
Polda NTT masih menunggu hasil scientific investigation untuk mengetahui sebab kematian MBP. Pemeriksaan juga akan melibatkan pihak kedokteran dan ahli forensik.
Dilaporkan Marselinus ditemukan meninggal di lokasi usai aksi berlangsung pada Selasa (15/9/2026) malam. Jenazah pemuda asal Sumba Barat itu selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Kristen Lende Moripa. (**)











